Selasa, 24 Agustus 2010

mapala...!!! Pencinta ALAM DAN MAHASISWA PENCINTA ALAM (seri dinamika kepencintaalaman)


Summary by:Che_ZOEL

PENCINTA ALAM DAN MAHASISWA PENCINTA ALAM (seri dinamika kepencintaalaman Indonesia)

Oleh : Nevy Jamest

“setiap langkah yang engkau lakukan

sangat tergantung pada langkah terakhir

yang engkau pikirkan”

(Nevy Jamest)

“Pencinta Alam”

kalimat yang kian menguat

dan akhirnya menjadi bagian dari

detak kehidupan masyarakat Indonesia.

Cinta dan Alam; Mudah diingat dan dekat dengan kehidupan.

Komunitas kalimat tersebut umumnya berasal dari segmen masyarakat yang cukup terhormat, Mahasiswa ! . . . . serta mereka yang menghargai kebebasan dalam kehidupan dan tidak sekedar hidup.

Komunitas ini lalu melembagakan kalimat tersebut dengan sebutan mahasiswa pencinta alam atau mpa (tidak sama antara mpa dan mapala).

Komunitas tersebut lalu berusaha tegak berjalan dalam jepitan waktu, pancangkan panji kelembagaan di puncak kehidupan berbangsa yang kian gersang.

Jelang lima dekade terakhir komunitas tersebut masih ada dan tetap seperti itu, wajarlah jika bukan hanya masyarakat yang ajukan sejumlah tanya tetapi ironisnya komunitas tersebut pun sebenarnya tenggelam dalam kebingungan; siapa sebenarnya mereka !

Komunitas ini ada tapi tidak eksis, memiliki waktu tanpa ruang, memiliki ruang tanpa materi, memiliki materi tanpa nilai, dan seterusnya.

“Pencinta Alam”, kalimat tersebut terkesan gampangan untuk dipahami sehingga sangat murah untuk dijadikan tiket legitimasi dalam pergaulan sosial dan politik murahan.

“Pencinta Alam”, mudah diingat sering dilupakan.

“Pencinta Alam”, terlalu dekat untuk dijangkau.

Pertanyaan dasar :

1. Apa yang dimaksud dengan pencinta alam dan mahasiswa pencinta alam ?

2. Bagaimana proses memahami pencinta alam dan bagaimana mahasiswa pencinta alam berproses ?

3. Seperti apa tujuan manfaat pencinta alam dan mahasiswa pencinta alam ?

2 (dua) pendekatan sebagai proses pembelajaran untuk dapat mengerti dan memahami (Insya Allah, menyadari) arti “Pencinta Alam dan Mahasiswa Pencinta Alam”, yakni ;

1. Pendekatan Filosofis (nilai, maknawiah, hati yang berpikir)

2. Pendekatan Historis

Pencinta Alam Pendekatan Filosofis

Sandaran berpikir, sebagai Hukum Dasar bahwa :

“Allah SWT

telah menciptakan

Alam dan Manusia”

Beberapa aspek maknawiah dari kebenaran umum diatas, antara lain :

1. Penegasan eksistensi keilahian Sang Maha Pencipta

2. Yang diciptakan Allah SWT ialah Alam dan Manusia

3. Alam dan Manusia adalah cermin eksistensi keilahian Sang Maha Pencipta

4. Alam dan Manusia menurut pandangan Allah SWT

5. Alam dan Manusia merupakan relasi keterikatan tak terpisahkan

6. Alam dan Manusia; ciptaan yang mengabdi kepada Sang Maha Pencipta

7. Proses interaksi antara Manusia dan Alam senantiasa disandarkan hanya kepada Sang Maha Pencipta – Allah SWT.

Apa yang dimaksud dengan Pencinta Alam

Cerminan interaksi antara Manusia dan Alam inilah yang diejawantahkan dalam suatu kata / kalimat / istilah, yakni : Pencinta Alam.

Secara filosofis, Pencinta Alam hanyalah suatu istilah ekspresif dari hubungan Manusia dan Alam sebagai suatu sistem yang tunduk bersandar kepada Sang Maha Pencipta – Allah SWT.

Operatif, . . . Pencinta Alam merupakan suatu statement (pernyataan sikap) tentang pentingnya suatu kesadaran untuk menjaga keharmonisan hubungan antara Manusia dan Alam yang beralaskan kecintaan.

Aplikatif, . . . Pencinta Alam menjadi suatu konsepsi atau pun metode edukatif yang efektif dalam proses pembelajaran dan peningkatan kualitas diri manusia.

Kekeliruan dalam memahami “Pencinta Alam” selama ini terletak pada analisis gramatikal, yakni : (CINTA = KVKKV, yang identik dengan TINJU = KVKKV; jika diberi awalan akan menjadi PETINJU (orang yang suka, gemar, berprofesi tinju. Hal yang sama, CINTA akan menjadi PECINTA (tanpa huruf N); lalu diterjemahkan sebagai orang yang suka, gemar dan mungkin profesi akan CINTA. Demikian pula dengan; “Pencinta” = subjek, orang yang suka (mencintai) kepada sesuatu; “Alam” = Objek yang disukai (dicintai) ; sehingga “Pencinta Alam dipahami sebagai kumpulan orang – orang yang mencintai alam sebagai objek ; dan dikembangkan menjadi peduli terhadap alam dan lingkungan, dst).

KEKELIRUAN DIATAS ADALAH GAMBARAN ADANYA KEKACAUAN DALAM BERPIKIR ATAU MUNGKIN SEDANG TIDAK BERPIKIR; . . . . . . yang akhirnya bermuara pada anggapan bahwa “Pencinta Alam” merupakan suatu bakat / minat / hobbi / profesi serta terjebak dalam polemik huruf “N” (Pe-N-cinta Alam atau Pecinta Alam), dan kekeliruan itu menjadi sempurna saat sudah tidak mampu membedakan antara “Pencinta Alam” dan “Petualangan”.

Pencinta ALAM DAN MAHASISWA PENCINTA ALAM (seri dinamika kepencintaala Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/books/1970752-pencinta-alam-dan-mahasiswa-pencinta/

Senin, 23 Agustus 2010

Sang "Dewa Gunung" Reinhold Messner


Reinhold Messner pantas disebut salah satu dewa gunung. Petualang asal Italia ini telah menorehkan sejumlah rekor dalam kancah petualangan dunia. Messner tak pernah bisa diam, ia terus mencari tantangan baru dalam menjelajahi suatu daerah. Umur boleh bertambah, namun semangat berpetualang tak pernah padam.
Dunia pendakian gunung salju seakan terhenyak. Sejumlah pendaki pun mencibir. Mereka bilang, mana mungkin itu dapat dilakukan. Komentar miring lainnya: itu sama saja dengan tindakan bunuh diri. Meski dianggap “gila”, Messner jalan terus. Ia tetap memegang prinsip: jalani dulu tanpa harus banyak bicara.
Cibiran dan cemohaan itu terlontar gara-gara Messner mengutarakan keinginan untuk mendaki gunung di kawasan Himalaya dengan gaya pendakian tradisional di kawasan Alpen, Eropa. Prinsipnya, dalam pendakian ini seorang pendaki hanya berbekal peralatan secukupnya dan melakukan pendakian ala kebut gunung.
Persiapan fisik dan mental pendaki sudah dilalukan sejak jauh hari. Begitu sampai di kaki gunung waktu aklimatisasi – penyesuaian diri dengan kondisi sekitar – juga tak lama. Hasilnya, waktu pendakian lebih singkat dan tak ada persiapan rute yang final. Paling penting: “haram” memakai tabung oksigen. Selanjutnya, gaya ini disebut gaya alpina.
Sebelum gaya ini populer, para pendaki dunia memakai gaya pendakian Himalaya. Mereka dibekali dengan berton-ton peralatan, logistik dan punya waktu ekspedisi yang panjang. Tentu saja, semua kebutuhan tadi dibawa porter yang jumlahnya dapat mencapai ratusan orang. Saat tiba di kemah induk (base camp), tim pendaki melakukan proses aklimatisasi. Beres semua itu, lalu mulai berjalan naik untuk membuka Kemah I dan seterusnya.
Untuk menerapkan gaya alpina di Himalaya, Messner menunjuk puncak gunung Gasherbrum I yang dikenal sebagai “Hidden Peak”. Gunung ini punya titik tertinggi 8.068 meter dari permukaan laut (mdpl) dan berlokasi di wilayah Pakistan dan Cina. Pada 1975, lelaki yang sempat kuliah di Universitas Padua, Italia mengajak Peter Habeler untuk bergabung dalam ekspedisi ini.
Pada 8 Agustus 1975, Messner dan Habeler memulai pendakian. Keduanya tak bawa tali, tabung oksigen dan hanya berbekal alat panjat pribadi. Hari kedua, mereka tiba di bawah dinding es curam setinggi 1.000 meter. Kemah berikut berdiri setelah lewat dinding tersebut. Messner dan Habeler pun melakukan pemanjatan kilat.
Usai pemanjatan gila-gilaan itu, keduanya terserang rasa lelah yang hebat. Saking capeknya, memasang tenda pun terasa sangat sulit. Apalagi acara makan tak ada dalam agenda pendakian. Hari berikutnya, mereka meninggalkan perlatan dalam tenda. Penyerangan puncak (summit attack) dilakukan dengan hanya membawa kapak es (ice axe), crampoons, kamera dan peralatan medis.
Pada hari yang sama, kedua pendaki handal ini meraih puncak. Peter Habeler tiba lebih dulu. Messner menyusul beberapa menit kemudian. Seperti lazimnya pendaki, Messner mengabadikan Habeler saat berada di puncak. Asyiknya, cuaca amat cerah dan mereka pun berpelukan. Wow!
Apa yang didapat ekspedisi Messner dan Habeler itu? Ini merupakan sukses kedua dalam usaha mencapai puncak Gasherbrum I. Namun, yang pertama dengan gaya alpina murni dalam pendakian gunung di atas 8.000 mdpl. Bagi Messner, pada saat itu, tercatat sebagai orang pertama yang sudah menjejak puncak di atas 8.000 mdpl: Nanga Parbat (8.125 mdpl), Manaslu (8.156 mdpl) dan Gasherbrum I.
Begitu pendakian beres, Walter Bonati mengucapkan selamat via telegram: “Pendakian alpina yang hebat sekali. Anda berdua adalah satu-satunya orang dalam tahun ini yang berhasil menekan batas maksimal petualangan.”

Terus Berpetualang
Messner tak pernah puas. Ia tetap menorehkan rekor lainnya dalam dunia pendakian. Sebut saja, orang pertama yang sukses menyapu bersih 14 puncak gunung di atas 8.000 meter, orang ketiga yang meraih gelar “pendaki tujuh puncak dunia”, pendaki pertama yang melakukan pendakian solo dan tanpa doping oksigen untuk meraih puncak Everest dan lainnya.
Pria yang meyakini keberadaan yeti – sejenis makhluk yang menyerupai beruang di Tibet – tak hanya dikenal sebagai pendaki gunung. Pada 1990, ia sukses melintasi benua Antartika dengan jalan kaki selama 92 hari via the South Pole sejauh 2.800 km. Dau tahun berikut, melintasi gurun Takla Maran, lalu ekspedisi ke Greenland sejauh 2.200 km.
Di balik sukses tentu ada pula cerita sedih. Kesedihan pertama Messner ketika berekspedisi ke Nanga Parbat, Pakistan. Di situ, petualang juga gape motret dan menulis buku itu harus menerima kenyataan, sang adik – Gunther Messner – meninggal dunia. Gunther tewas lantaran kejatuhan salju longsor (avalanche) di dekat kemah induk. Padahal, keduanya sudah menejak puncak via dinding Rupal (Rupal Face). Untuk melupakan kejadian itu, Messner butuh waktu bertahun-tahun.
Tragedi kedua terjadi di Manaslu (8163 mdpl), Nepal pada 1972. Messner dituduh menjadi penyebab hilangnya dua rekan pendaki dalam tim ekspedisi yang dipimpin Wolfgang Nairz. Franz Jager hilang dalam perjalanan turun bersama Messner. Raga Jager tak juga ditemukan setelah hilang dihantam badai salju. Dalam usaha pencarian itu, anggota ekspedisi lainnya: Andi Schlick ikut menghilang. Messener dan Horst Frankhauser sudah mencari, namun hasilnya nihil. Maklum saja, kondisi cuaca pada saat itu betul-betul buruk.
Usai pendakian, sejumlah tulisan menyalahkan Messner. Sialnya, tulisan itu dibuat oleh orang-orang yang belum pernah berekspedisi ke gunung 8.000 meter. Seluruh anggota tim mendukung Messner untuk menulis cerita yang sebenarnya. Namun, ia kadung trauma. Sejak itu, ia berjanji tak lagi ikut dalam ekspedisi berjumlah besar.
Messner juga sempat gagal menaklukan Lhotse (8516 mdpl), Nepal/Cina pada 1975. Lalu gagal pada pendakian ke Makalu (8463 mdpl), Nepal/Cina tahun 1986. Tapi masih dalam tahun yang sama, kedua “hutang” tadi langsung dibayar lunas.



PRESTASI
Reinhold Messner

Reinhold Messner

Lahir 17 September 1944, Brixen, Italy

1. 1970: Nanga Parbat (8125 m)
2. 1972: Manaslu (8156 m)
3. 1975: Gasherbrum I (Hidden Peak) (8068 m)
4. 1977: Dhaulagiri (8167 m)
5. 1978: Mount Everest (8848 m) (Pendakian pertama tanpa bantuan oksigen), Nanga Parbat (8125 m) (Pendakian solo pertama 8000mdpl dari basecamp)
6. 1979: K2 (8611 m)
7. 1980: Mount Everest (8848 m) (Pendakian solo pertama tanpa bantuan oksigen – musim badai)
8. 1981: Shisha Pangma (8012 m)
9. 1982: Kangchenjunga (8598 m), Gasherbrum II (8035 m), Broad Peak (8048 m), Cho Oyu (8201 m – gagal melakukan pendakian musim dingin)
10. 1983: Cho Oyu (8201 m)
11. 1984: Gasherbrum I (8068 m) dan Gasherbrum II (8035 m) sekaligus tanpa balik ke basecamp terlebih dahulu
12. 1985: Annapurna (8091 m), Dhaulagiri (8167 m)
13. 1986: Makalu (8485 m), Lhotse (8516 m)















Sumber : Harian Sinar Harapan

CARRIER / Ransel berangka


tip-tips dalam pemilihan CARRIER / ransel yang harus diperhatikan ...

1. Ukuran tubuh (panggul sampai pundak)Untuk mendapatkan ransel yang pas, harus diketahui panjang dari tubuh. Caranya, ukurlah dari tulang punggung yang ke tujuh ( Tulang yang menonjol tepat dibawah tekuk/leher bagian belakang) kebawah mengikuti kontur tulang punggung sampai ke titik bawah antara tulang pinggul. Cek kedua sisi pinggang
Saat mencoba ransel, pastikan kedua belah ikat pinggangnya berada pada posisi yang pas, tepat pada tonjolan tulang pinggang, bukan pada pinggang. Berat secara keseluruhan akan ditahan oleh ikat pinggang ransel, jadi pastikan posisinya nyaman dan pas tanpa tergeser.

2. Latihlah dengan sabar.Ransel merupakan peralatan yang sangat penting, jadi sediakanlah waktu yang cukup saat memilihnya. Sebelum meninggalkan toko, masukan seluruh perlengkapan yang biasa dibawa kedalam duffel bag. dan masukan kedalam ransel yang akan dibeli, lalu cobalah memakai ransel itu berjalan disekitar toko selama kira-kira 20 menit. Ini untuk memastikan peralatan pas didalamnya dan ransel bisa mnampung berat secara baik dan nyaman

3. Berbaiklah pada diri sendri.Belilah ransel terbaik yang bisa dan mampu dibeli, selama itu cocok dan pas. ketahanan dan kwalitas sebenarnya berada pada posisi setelah kenyamanan yang merupakan poin yang paling penting. buat apa membeli ransel yang berkwalitas dan bermutu hebat akan tetapi ukurannya tidak cocok bagi diri sendiri.

4. Kenalilah berat yang akan dibawaTentukan apa dan bagaimana yang akan dibawa. Lamanya waktu perjalanan, 1 atau 2 malam. Apakah akan hiking di musim hujan? atau untuk perjalanan pendek dimusim panas, mungkin hanya akan membutuhkan ransel kecil saja. Akan tetapi jika perjalanan ke gunung salju, akan lebih membutuhkan kapasitas dan tambahan tempat untuk menempatkan peralatan external.

5. Kenali jalan setapaknyaJika berencana untuk menempuh jalur pendakian yang melewati jalan setapak yang terawat rapi, Jenis ransel dengan external frame mungkin akan jadi pilihan yang baik juga. Akan tetapi jika kondisi jalan setapak lebih berat dan kondisi medannya juga berat dimana faktor keseimbangan sangat diperlukan, maka ransel dengan jenis internal frame akan lebih nyaman dipakai.

6. Pikirkan perubahan yang mungkin terjadiJika akan mendaki dengan sistem pendakian ke puncak setelah mendirikan tenda di setengah atau seperempat bagian menuju puncak. Maka pikirkan juga untuk memilih ransel yang bisa dirubah ukurannya menjadi ukuran daypack.

7. hormatilah tabiatmu yang kadang aneh.Ransel tidak ubahnya seperti pacar atau istri, jadi tidak seharusnya jika berharap setelah mendapatkanya akan merubah kebiasaan yang buruk. Jika mempunyai personal moto " Tempat untuk semuanya dan semuanya didalam tempatnya." maka pilihlah ransel yang banyak kantongnya. Jika ingin mengambil botol air saat berjalan, jangan pilih ransel yang mempunyai kantong yang jauh dari jangkauan, yang akan membuat frustasi saat akan menjakau sesuatu didalamnya.

8. Rencanakan dengan teman.Jika akan mendaki dengan teman atau dengan grup, hitunglah berapa perlengkapan grup (tenda, kompor, makanan, dll) yang akan dibawa. Kemudian belilah ransel yang cocok dengan berat jatah anda.

9. Pikirkan tempat minumanJIka anda menyukai jenis tempat minuman yang bertipe hydration tube, maka carilah ransel yang sudah terbuat menyatukan hydration tube dengan ransel atau bisa juga memilih ransel yang mempunyai kantong disisi bawahnya yang pas dengan ukuran sebuah botol minum.


Sumber: Kaskus

Silahkan koment

Silahkan koment di blog gue ini...kasih kritik saran dan tanggapan,,tapi jangan terlalu sadis gue masih belajar soalnya,,,,heheheh

Artikel Populer